Sunnatullah (Ketetapan-Ketetapan Allah) dalam Pertolongan Kaum Mukminin
Sunnatullah (Ketetapan-Ketetapan Allah) dalam Pertolongan Kaum Mukminin adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Burhan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 12 Safar 1448 H / 27 Juli 2026 M.
Kajian Tentang Sunnatullah (Ketetapan-Ketetapan Allah) dalam Pertolongan Kaum Mukminin
Allah ‘Azza wa Jalla memiliki ketetapan-ketetapan (sunan) yang tidak akan pernah berubah maupun digantikan dalam memberikan pertolongan kepada kaum mukminin atas musuh-musuh mereka.
Terdapat tiga ketetapan utama yang melandasi pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla:
1. Kepastian Pertolongan bagi Orang-Orang Beriman
Ketetapan pertama dinyatakan di dalam Al-Qur’an bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memastikan pertolongan bagi orang-orang yang beriman.
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan merupakan hak bagi Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum[30]: 47)
Pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla kepada kaum mukminin atas musuh-musuh mereka merupakan janji yang pasti. Oleh karena itu, rasa khawatir, kesedihan, maupun kesempitan dada hendaknya disingkirkan karena pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti datang kepada orang-orang yang beriman.
2. Perubahan Keadaan Berawal dari Diri Sendiri
Ketetapan kedua menegaskan bahwa perubahan kondisi suatu kaum bergantung pada usaha perubahan dari dalam diri kaum itu sendiri.
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 11)
Keadaan diri hendaknya diubah dari ketidakbaikan menjadi kebaikan, dari ketidaktaatan menjadi ketaatan, serta dari kebodohan (jahil) menuju keilmuan. Kemenangan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadapi musuh-musuh-Nya menuntut perbaikan diri terlebih dahulu. Perubahan nyata dapat dimulai dari hal-hal dasar, seperti mengubah kebiasaan shalat bagi laki-laki dari rumah menjadi dilaksanakan berjamaah di masjid. Perintah untuk menjaga syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala juga hendaknya ditegaskan kepada keluarga, seperti membimbing istri dan anak perempuan untuk mengenakan jilbab.
3. Ancaman Penggantian Kaum yang Berpaling
Ketetapan ketiga memberikan peringatan mengenai penggantian suatu kaum apabila mereka berpaling dari ketaatan.
وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لاَ يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
“Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.” (QS. Muhammad[47]: 38)
Keengganan untuk taat dan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengakibatkan terjadinya pergantian dengan kaum lain. Agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dipastikan akan tetap menang melalui diutusnya orang-orang yang lebih baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membutuhkan kelalaian hamba-Nya, sehingga perbaikan diri, penuntutan ilmu agama, pengamalan ajaran, serta perjuangan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla harus dilakukan sebelum penggantian itu terjadi.
Kehidupan hendaknya dijalani dengan memahami ketetapan-ketetapan ini:
“Wahai hamba-hamba Allah, marilah kita hidup memahami ketetapan-ketetapan ini agar orang yang binasa itu binasa di atas bukti yang nyata dan orang yang hidup itu hidup di atas bukti yang nyata.”
Kemenangan dan Masa Depan Milik Islam dan Kaum Muslimin
Ketetapan pertama menegaskan bahwa pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dengan keimanan yang menghujam di dalam hati.
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan merupakan hak bagi Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum[30]: 47)
“Wahai hamba-hamba Allah, telah datang dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang memberikan kabar gembira bahwa kemenangan, kejayaan, dominasi, dan masa depan adalah milik Islam dan kaum muslimin.”
Keyakinan bahwa masa depan adalah milik Islam dan kaum muslimin merupakan hal yang wajib diimani oleh setiap hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala dan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kepastian kemenangan tersebut ditegaskan dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla:
كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Allah telah menetapkan: ‘Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.’ Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Mujadilah[58]: 21)
Kemenangan bagi tentara Allah ‘Azza wa Jalla juga ditegaskan dalam ayat lainnya:
وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ
“Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (QS. As-Saffat[37]: 173)
Keterangan dari Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan bahwa kemenangan merupakan hak milik Islam dan kaum muslimin. Penegasan ini termaktub dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:
إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ
“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Ghafir[40]: 51)
Ayat tersebut menjadi dalil bagi ketetapan pertama bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menolong orang-orang yang beriman, sekaligus mengukuhkan keyakinan bahwa masa depan berada di tangan Islam dan kaum muslimin. Janji pertolongan ini kembali ditegaskan melalui firman-Nya:
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan merupakan hak bagi Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum[30]: 47)
Keunggulan agama Islam atas seluruh agama juga dinyatakan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an dan ilmu yang benar) dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak suka.” (QS. At-Taubah[9]: 33)
Kepastian pewarisan bumi bagi hamba-hamba yang saleh tercantum di dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis di dalam) Lauh Mahfuz, bahwasanya bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiya[21]: 105)
Hamba-hamba Allah yang saleh tersebut adalah kaum mukminin, dan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti ditepati.
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan janji kekuasaan, keteguhan agama, serta perubahan kondisi dari ketakutan menjadi keamanan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka beribadah kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur[24]: 55)
Berbagai ayat tersebut menumbuhkan sikap optimis bahwa dunia akan dipenuhi dengan keadilan yang dibawa oleh Islam dan kaum muslimin. Pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla bagi pihak yang menolong agama-Nya ditegaskan dalam firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأُمُورِ
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allahlah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj[22]: 40–41)
Penegasan Kemenangan Islam Melalui Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Banyak hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan bahwa masa depan adalah milik Islam dan kaum muslimin.
1. Luasnya Kekuasaan Umat Islam
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan penyerahan dan penyatuan wilayah-wilayah bumi bagi umat Islam di dalam sabdanya:
إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا
“Sesungguhnya Allah telah melipat (menyatu-kumpulkan) bumi untukku, sehingga aku dapat melihat belahan timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang telah dilipat untukku darinya.” (HR. Muslim)
Sabda Beliau menegaskan bahwa ajaran Islam akan memasuki seluruh penjuru dunia.
2. Penyebaran Islam ke Seluruh Pelosok Dunia
Jangkauan dakwah Islam dipastikan akan memasuki setiap pemukiman manusia tanpa terkecuali, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَبْلَغَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ، وَلا يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ ، وَلا وَبَرٍ ، إِلا أَدْخَلَهُ هَذَا الدِّينَ بِعِزِّ عَزِيزٍ ، أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ ، يُعِزُّ بِعِزِّ اللَّهِ فِي الإِسْلامِ ، وَيُذِلَّ بِهِ فِي الْكُفْرِ
“Perkara (agama) ini pasti akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satupun rumah di kota (dari tanah liat) maupun di desa (dari bulu) melainkan Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina; kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran.” (HR. Ahmad)
Penyebaran agama Islam akan menjangkau seluruh kawasan sebagaimana perputaran siang dan malam menjangkau bumi.
3. Fase-Fase Kepemimpinan Umat Islam
Perjalanan kepemimpinan umat Islam dari masa ke masa telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam haditsnya:
تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا، فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا
“Masa kenabian akan ada di tengah-tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekhilafahan di atas manhaj kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kerajaan yang menggigit (mulkan ‘addhan) selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.” (HR. Ahmad)
Sistem pemerintahan setelah masa kekhilafahan yang berjalan di atas metode kenabian berlanjut ke sistem kerajaan (mulkan ‘addhan) yang menerapkan sistem kepemimpinan secara turun-temurun. Masa kekuasaan tersebut akan ada selama masa yang dikehendaki oleh Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla mengangkatnya apabila Dia berkehendak.
Sesudah masa kerajaan tersebut, akan datang fase kepemimpinan yang bersifat diktator (mulkan jabriyan):
ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً، فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلافَةً عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ”. ثُمَّ سَكَتَ
“Kemudian akan ada kekuasaan yang diktator (mulkan jabriyan) selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kembali kekhilafahan yang berjalan di atas minhaj kenabian. Kemudian Beliau diam.” (HR. Ahmad)
Hadits ini menjadi bukti nyata bahwa masa depan adalah milik Islam dan kaum muslimin. Berbagai dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah memberikan kabar gembira mengenai kejayaan (at-tamkin), pertolongan (an-nasr), serta masa depan bagi Islam dan kaum muslimin.
Ketidaksukaan orang-orang kafir, orang-orang musyrik, maupun orang-orang munafik tidak akan mampu menghalangi janji kemenangan yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Usaha gigih yang dilakukan oleh pihak-pihak yang menentang Islam tidak dapat merintangi kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hubungan Pertolongan Allah dengan Kesabaran
Pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dipastikan akan senantiasa datang setelah adanya kesabaran. Ujian dan penganiayaan yang dialami oleh para nabi terdahulu menjadi bukti nyata mengenai sunnatullah ini, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ
“Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan-ketetapan) Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.” (QS. Al-An’am[6]: 34)
Kesabaran merupakan prasyarat mutlak untuk memperoleh pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menegaskan keterikatan antara pertolongan dan kesabaran di dalam sabdanya:
وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ
“Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran.” (HR. Ahmad)
Kemenangan atas musuh senantiasa didahului oleh proses ujian (imtihan), cobaan (ibtila’), kesulitan (syiddah), serta penyaringan (tamhis) untuk membuktikan kesungguhan iman.
Proses Seleksi (Tamhis) dan Kekuatan Iman
Proses penyaringan (tamhis) atau seleksi terlihat nyata dalam peristiwa Peristiwa Perang Uhud. Jumlah pasukan yang berangkat pada awalnya mencapai 1.000 orang, tetapi 300 orang dari kalangan munafik mengundurkan diri di tengah jalan. Keadaan tersebut menyisakan pasukan yang seluruhnya terdiri dari orang-orang beriman.
Setelah Perang Uhud usai, dalam kondisi terluka dan lelah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para sahabat untuk melanjutkan perjalanan menuju Hamraul Asad. Ketika Malaikat Jibril ‘Alaihis Salam datang dan menanyakan apakah senjata telah diletakkan, beliau menegaskan bahwa para malaikat belum meletakkannya. Ketaatan para sahabat ditunjukkan dengan tetap berangkat tanpa penolakan meski dalam kondisi payah. Dua orang sahabat yang mengalami luka berat saling memapah, bahkan terjatuh berulang kali demi menuju lokasi tersebut. Ketetapan diputuskan bahwa hanya peserta Perang Uhud yang diperkenankan mengikuti perjalanan ke Hamraul Asad.
Pendidikan iman memegang peranan utama melebihi kekuatan fisik semata. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu secara fisik digambarkan bertubuh kurus dan betisnya kecil. Kuda-kuda milik para sahabat Arab juga berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan kuda-kuda bangsa Eropa atau Romawi. Meskipun demikian, keimanan memberikan kekuatan bagaikan gunung di medan perang, sementara pasukan musuh tampak rapuh meskipun berbadan besar dan menunggangi kuda yang perkasa. Kesungguhan belajar agama dan memperdalam ilmu syar’i menjadi faktor kunci untuk memperkuat iman.
Ujian Keimanan sebagai Sunnatullah
Keimanan seseorang tidak cukup hanya dinyatakan melalui lisan, melainkan harus melalui proses ujian untuk membuktikan kebenarannya.
الم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan Dia pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut[29]: 1–3)
Tujuan dari ujian yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah untuk menyingkap kesabaran serta kesungguhan hamba-Nya dalam berjuang:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
“Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji pula berita-berita tentang kamu.” (QS. Muhammad[47]: 31)
Pemusnahan kaum kafir merupakan perkara yang sangat mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, keberadaan peperangan dan konflik diizinkan terjadi sebagai sarana ujian bagi kaum mukminin:
…وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَ بَعْضَكُم بِبَعْضٍ…
“Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka. Akan tetapi, Dia membiarkan kamu bertempur untuk menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (QS. Muhammad[47]: 4)
Ujian tersebut diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menilai tingkat kesabaran dan keteguhan iman hamba-Nya. Pemusnahan kaum yang durhaka merupakan hal yang sangat mudah bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Permohonan doa dari Nabi Nuh ‘Alaihis Salam berakibat pada diturunkannya azab berupa banjir besar yang membinasakan orang-orang kafir.
Nabi Nuh ‘Alaihis Salam menunjukkan kesabaran yang sangat luar biasa dengan mendakwahi kaumnya selama 950 tahun. Jumlah pengikut Nabi Nuh ‘Alaihis Salam terhitung sangat sedikit, yakni di bawah 100 orang atau diperkirakan sekitar 80 orang.
Ukurannya keberhasilan suatu dakwah tidak dinilai dari banyaknya jumlah pengikut, melainkan dari konsistensi seorang dai di atas jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Keberadaan di atas jalan kebenaran tetap bernilai mulia terlepas dari sedikit atau banyaknya pengikut.
Kuantitas jumlah pengikut yang besar tidak akan memberikan dampak apabila tidak disertai dengan perubahan ketaatan. Kuantitas tanpa kualitas diibaratkan seperti buih di lautan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ
“Buih seperti buih air bah.” (HR. Abu Dawud)
Para sahabat menanyakan mengenai kondisi jumlah kaum muslimin yang menyebabkan terjadinya keadaan tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa jumlah kaum muslimin saat itu sangat banyak, namun terjangkit penyakit wahn, yaitu hubbud dunya wa karahiyatul maut (cinta dunia dan takut mati).
Tingkat keimanan seseorang akan diuji sebelum diperkenankan memasuki surga, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata: ‘Kapan datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 214)
Penderitaan, kemelaratan, dan berbagai macam guncangan cobaan dihadapi oleh kaum mukminin dengan penuh kesabaran. Keikhlasan serta kesabaran yang tinggi di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi kunci utama dalam memperjuangkan agama dan meraih pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla.
Ujian Dahsyat Kaum Mukminin dalam Peristiwa Perang Ahzab
Peristiwa Perang Ahzab menjadi contoh nyata bagaimana Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan kondisi kaum mukminin yang berada dalam himpitan kesulitan dan guncangan yang sangat dahsyat.
Penderitaan dan bentuk pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada peristiwa Perang Ahzab diabadikan di dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا . إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا . هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالاً شَدِيدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat (para malaikat). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatanmu terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Disitulah diuji orang-orang beriman dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.” (QS. Al-Ahzab[33]: 9–11)
Kedatangan musuh dari berbagai arah menguji keimanan kaum mukminin hingga penglihatan tidak lagi tetap, hati terasa sesak hingga ke tenggorokan, serta muncul berbagai prasangka. Di tengah kondisi goncangan yang sangat dahsyat tersebut, kaum mukminin betul-betul diuji keteguhannya oleh Allah ‘Azza wa Jalla.
Tiga Ketetapan Utama (Sunnatullah) Allah ‘Azza wa Jalla
Rangkaian dalil mengenai ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfokus pada tiga prinsip utama:
1. Pertolongan Pasti bagi Orang-Orang Beriman
Allah ‘Azza wa Jalla menetapkan kewajiban atas diri-Nya untuk memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan merupakan hak bagi Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum[30]: 47)
2. Perubahan Kondisi Dimulai dari Diri Sendiri
Perubahan nasib serta kondisi suatu kaum tidak akan terjadi sebelum kaum tersebut berusaha memperbaiki dan mengubah keadaan diri mereka sendiri.
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 11)
3. Penggantian Kaum yang Berpaling
Keengganan untuk taat dan berpalingnya suatu kaum dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengakibatkan terjadinya pergantian kaum tersebut dengan kaum lain yang lebih baik.
وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لاَ يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ
“Dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.” (QS. Muhammad[47]: 38)
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Sunnatullah (Ketetapan-Ketetapan Allah) dalam Pertolongan Kaum Mukminin” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56406-sunnatullah-ketetapan-ketetapan-allah-dalam-pertolongan-kaum-mukminin/